Jumat, 23 Maret 2012

Neighborhoods Album




Neighborhoods, sebuah penantian panjang dan melelahkan, 8 tahun kita telah bermimpi akan ada kelanjutan dari album Self-Titled milik Blink-182. Neighborhoods merupakan album resmi pertama mereka setelah mengalami Indefinite Hiatus, yang bukan saja membuat Tom, Mark, Travis terpecah, namun juga fans mereka. Album ini dirilis tanggal 27 September di bawah naungan label DGC Record dan Interscope Records. Album ini juga merupakan album pertama mereka yang dikerjakan tanpa bantuan produser rekaman.

Berbicara dengan Alternative Addiction, sang gitaris Tom DeLonge menjelaskan album studio keenam blink-182, Neighborhoods, mencampurkan semua pengaruh tiga anggota band. "Di album ini Anda akan mendengar elemen hip-hop dicampur dengan irama suburban punk dan indie rock experimentation," katanya. Campuran pengaruh trio adalah apa yang menjadikan judul album. "Saya menyajikan judul dan jenis dari setiap orang yang berhubungan dengannya," jelas Tom. "Saya pikir itu ada hubungannya dengan fakta bahwa kami bertiga dibesarkan di lingkungan yang sama sekali berbeda, dan itu mewakili ketiga dunia kita yang berbeda."


Rekaman dan Produksi

Blink-182 mulai merekam demo materi baru mereka pada tahun 2009. Mereka bertiga membawa ide lagu mereka masing-masing yang akan mereka kerjakan bersama. Segera setelah mereka kembali bersama, Travis mengatakan bahwa mereka bertiga segera “terinspirasi” setelah berlatih dengan lagu lama mereka dan mendengarkannya kembali, hingga mereka memutuskan untuk membuat demo baru. Terdapat 4 demo yang diselesaikan, dan hanya satu yang mendekati selesai, yaitu lagu "Up All Night". Mereka bertiga awalnya ingin merilis lagu tersebut sebagai singel saat itu, tetapi segera menyadari bahwa hal tersebut terlalu ambisius untuk menyelesaikan lagu tersebut sebelum tour reuni mereka dimulai pada bulan Juli. Ketika berada di tengah jadwal tour, Travis mendapatkan telepon yang memberitahu bahwa DJ AM mengalami overdosis dan meninggal di New York, dan hal tersebut memberi dampak yang besar bagi Travis. Mereka telah menulis banyak materi lagu bahkan sebelum tour selesai, namun setelah tour reuni mereka tersebut selesai, mereka mengambil waktu istirahat “beberapa bulan untuk menenangkan diri dan melakukan hal lain,” dengan harapan untuk kembali berkumpul pada tahun 2010. Tom belajar selama proses rekaman, dalam kata-katanya, untuk “membiarkan dan menerima bahwa dia tidak dapat mengendalikan segalanya.” Walaupun mereka bertiga pada awalnya jarang berada di ruangan yang sama saat rekaman dengan memilih untuk mengerjakan bagian mereka secara individual, Tom menegaskan bahwa metode tersebut lebih efisien karena alasan pertimbangan jadwal dan bukan karena kurangnya kekompakan di dalam band. Sebagai tambahan atas tragedi menyangkut DJ AM, Tom sempat didiagnosa mengalami kanker kulit pada 2010, walaupun segera dibersihkan dalam waktu yang cukup cepat.

Album ini direkam di studio milik Tom di San Diego dan studio Los Angeles oleh Mark dan Travis. Sesi rekaman di studio yang berbeda merupakan ide Tom, dimana ide rekaman saling ditukar melalui e-mail. Beragam teknisi bertemu dengan anggota band secara perorangan untuk menukarkan berkas rekaman dari hard drive. Pada Juni dan Juli 2010, mereka menghabuskan waktu di tempat berkumpul mereka, menulis dan merekam lagu baru. Mereka berencana untuk tidak melakukan tour pada sejak bulan September dan tetap di studio hingga akhir tahun sampai album ini selesai. Pada awal 2011, Travis pergi untuk tour promosi atas rilis album solonya, sementara Tom dan Mark melanjutkan bekerja di studio terpisah. Di bawah tekanan, mereka merilis pernyataan pada bulan April yang secara efektif menjadwal ulang seluruh tour Eropa dikarenakan proses rekaman yang lebih lama dari dugaan. “Kami merencanakan tour tersebut tahun lalu, dimana kami sangat percaya diri bahwa kami dapat merilis album baru sebelum musim panas. Hal tersebut tampaknya salah, dan album baru ini membutuhkan waktu yang lebih lama dari dugaan kami,” bunyi pengumuman tersebut. Sebagai akibatnya, Geffen Records memberi tanggal 31 Juli sebagai batas akhir untuk album mereka. Menanggapi batas akhir tesebut, Tom hanya bercanda, "Kami mungkin benar-benar akan pergi ke rumah presiden (Geffen) jam 2 dini hari untuk menyerahkan album kami melalui jendela kamarnya di menit-menit akhir." Pada bulan Mei, mereka masih menulis dan merekam lagu baru, dengan Tom mengatakan, "Kami pikir kami sudah dekat dengan ujungnya, dan seminggu yang lalui kami mengeluarkan seluruh ide dan peralatan yang akan membuat salah satu album terbaik." Pada tanggal 31 Juli, mereka hampir selesai dengan proses produksi dan akhirnya menyelesaikannya pada bulan Agustus.

Album ini menjadi album pertama mereka yang diproduksi sendiri, dikarenakan telah meninggalnya Jerry Finn yang merupakan produser mereka sejak lama. Tidak hanya Finn mengepalai tiga album terakhir mereka sebelu masa vakum, namun ia juga telah dianggap anggota band yang tidak terhingga nilainya: penasehat, pengamat netral, membantu meredam tekanan dan mengasah suara musik mereka. Mark mengatakan, “Sejujurnya aku masih merasa bahwa dia berada di studio bersama kami, karena bagiku, personally, segala tentang rekaman dan berada di studio, aku pelajari dari Jerry.” Bukannya seorang produser, setiap anggota band justru memiliki teknisi audio mereka sendiri. Tom menolak menggunakan jasa produser setelah terus memproduseri semua album Angels & Airwaves sendiri, menggambarkan situasi band yang “sangat demokratis.” Sebagian sesi rekaman album akan didokumentasikan dalam "The Blinkumentary".

Proses rekaman dan rilis Neighborhoods mengalami penundaan beberapa kali. Proses rekaman tertunda dikarenakan cara kerja yang mereka pilih (sendiri ataupun bersama-sama) dengan tambahan jadwal mereka masing-masing yang padat. Sebagai tambahan, Travis merilis sebuah album solo, Tom bekerja dengan Angels & Airwaves, dan Mark harus terbang ke New York City setiap minggu untuk acara televisinya, Hoppus on Music. Mark juga menghubungkan penundaan album dengan mereka yang belajar bekerja tanpa Finn. Baik Tom maupun Mark mengalami frustasi selama sesi pertemua rahasia dengan manajer dan pengacara mereka, yang digambarkan oleh Tom sebagai “the absolute diarrhea of bureaucracy”. Hasilnya adalah setiap anggota band memiliki pengacara masing-masing dan mereka memiliki 4 manajer selama sesi Neighborhoods. Ditambah, Mark juga pindah London bersama keluarganya selama tahap akhir proses rekaman. Penyebab penundaan album juga termasuk komplikasi beragam masalah lain.

Intisari Lagu

Track Neighboorhoods dibuka dengan "Ghost On The Dancefloor" dimana Tom memaksimalkan perangkat yang dipelajarinya selama bermeditasi bersama AVA, dimana dia menyentuh sisi sound serba modern dan alienisasi dikawinkan dengan pukulan bergema serba rapat milik Travis. Lagu ini sendiri penuh kepedihan [It's like the universe has left me Without a place to go Without a hint of light To watch the movement glow And our song is slowly starting Your memory felt so real] dan menurut mereka, ini dipersembahkan untuk semua yang terlebih dahulu meninggalkan mereka, DJ AM, dan tentu saja Jerry Finn. Lagu "Ghost on the Dance Floor" secara spesifik adalah tentang "mendengarkan lagu yang pernah kau dengar bersama dengan orang yang telah meninggal." Lagu tersebut sangat menyentuh bagi Travis, yang menghubungi Tom suatu malam hanya karena lagu tersebut mempengaruhinya ketika dia mendengarkan lagu tersebut, berkaitan dengan kematian DJ AM Sebuah track yang gelap namun catchy, salah satu lagu dengan kombinasi lirik dan musik terbaik yang ada di album ini.

"Natives" melanjutkan kegelapan dan meniupkan aroma kesuraman dengan lick gitar Delonge ala M&M's yang lebih modern dan ketukan Travis yang kita rindukan selama ini, ceria dan gelap seketika. Liriknya sendiri serba depresif, berpotensi membuat pendengarnya mencari obat penenang dan bunuh diri saat itu juga sembari menyayat nadi. Tom bernyanyi [I am the prodigal son, a shameful prodigy too] di bagian verse dan Mark memperparah tekanan dengan reff berbunyi [I'm just a bastard child, don't let it go to your head I'm just a waste of your time, maybe I'm better off dead] Entah novel atau koran pinggir jalan apa yang mereka baca, tapi ini begitu depresif dan gelap. Judul lagu ini sempat diubah sekitar 20 kali (Tom). Ide lagu ini berasal dari Tom. Menurutnya orang-orang akan menyukainya


Track selanjutnya adalah "Up All Night" yang berisi riff gitar usang milik Tom yang sudah diperdengarkan saat sesi pembuatan album Self-Titled dan dipoles dengan sentuhan luar angkasa dan suara alien di kanan kiri. Departemen lirik mengalami peningkatan dengan cara bernyanyi sahut-menyahut khas band ini, ah, Tom dan Mark memang duet maut untuk saat seperti ini. Lagu yang bercerita tentang kenyataan dan pencarian arti hidup selama ini -yang merupakan sebuah pendewasaan - yang tiap line-nya diisi calon quote-quote cerdas dan berisi pedasnya kenyataan. Kecerdasan itu ditutup dengan pertanyaan tegas [Let me get this straight. Do you want me here? As I struggle through each and every year...] Banyak yang langsung membandingkan sound lagu ini dengan AVA, dan hal itu sangat lucu. Tom adalah punggawa dan otak utama dibalik AVA (dia merasa musik dan sound seperti itulah yang disukainya kini) dan dia adalah bagian dari Blink-182, akan sangat wajar apabila ia memasukan unsur yang disukainya di apapun yang berkenaan dengan Blink-182 karena hal itu tidak terpisahkan. Ia tetap Tom, namun pendengar yang dewasa dan fans yang budiman seharusnya menyadari hal itu, Tom bukan lagi skateboarder culun dari pinggir California yang bercita-cita luhur menjadi lelucon di dunia musik. Dia beranjak dewasa dengan caranya sendiri, terima atau tidak.. Deal with it.


"After Midnight" adalah picisan. Lagu yang jelas-jelas merupakan kelanjutan dari "I Miss You"(Self-Titled). Lagu ini awalnya berjudul "Travis Beat", adalah satu dari 4 lagu yang lahir dalam menit-menit akhir sesi penulisan setelah mereka membatalkan tour Eropa mereka. Lagu tersebut merupakan lagu favorit Travis di album ini yang ditulis secara terpisah namun direkam bersama-sama. Chorus ditulis Mark, dan verses ditulis oleh Tom. Lagu ini diawali oleh beat Travis yang menjemukan dan flat, lalu Tom menyanyikan curahan penderitaan hati pujangga gendut yang cinta mati kepada kekasihnya sepanjang verse [A bit of pain will help you suffer when you're hurt, for real Cause you're driving me crazy By your lips, the word's a robbery Do you grin inside? You're killing me] Lalu Mark merengek [We'll stagger home after midnight. Sleep arm in arm in the stairwell. We'll fall apart on the weekend.These nights go on and on and on] mengenai sebuah dua sisi yang saling berlawanan, suka dan duka di reff yang sangat menohok sisi hati kalian yang mulai berfikir untuk siap mati demi mencari belahan hati.


Banyak yang merasa ”Snake Charmer” tidak cocok dengan blink-182, dan saya tidak sependapat. Memang terdengar sedikit janggal, namun akuilah ini merupakan salah satu lagu dengan eksplorasi kreatif maksimal dan nada yang mudah menempel di kepala meskipun cenderung cheesy dengan hook juara mengisi sepanjang reff [That's how it was to all begin Cause good girls who like to sin Way back at the starting line Where Eve was on Adam's mind And he was the first to go In search of the great unknown And falling yet again Cause good girls, they like to sin]. "Snake Charmer", awalnya berjudul "Genesis" (sebagai referensi terhadap Book of Genesis) didasarkan pada kisah alkitab tentang Adam dan Hawa. Mark menulis lirik yang berkaitan dengan rusaknya komunikasi dan rasa pecaya dan bekerja dengan tema isolasi dan kebingungan, walaupun tidak satupun liriknya yang secara spesifik berkaitan dengan masa lalu band.


Track “Heart’s All Gone” adalah penumpas rindu bagian kalian pecinta Blink-182 pada era mereka masih lebih sering menjual lelucon jorok ketimbang merchandise. Track yang cepat, dark, dan sangat keren (Mark). Mark sangat bangga dengan lagu ini. Lagu ini secepat lagu 'Josie' (Mark). Lagu ini cepat seperti 'The Party Song' (Tom). Di lagu ini, kita akan mendegar Mark dengan cerdas melemparkan semua kekesalan dan meludahi kita dengan barisan kata-kata jenius. [Your smoking tongue is the end of us all. But you only care about Fame and fortune, Watching others tortured, Casting your reflection] dan Travis menjaga beat oldshool – yang meski sedikit menurun agresifitasnya, tetap mampu membuat kita bernostalgia – sepanjang lagu. Jangan risaukan mengenai interlude aneh dan sangat sederhana di awal lagu, ini saatnya moshing di atas meja belajar kalian. Yeah, your heart's all gone!

“Wishing Well” kembali menurunkan tensi dan mendinginkan kepala kalian dengan barisan kata-kata bijak dari Tom yang mencoba menyuntukan aura positif ke dalam otak kalian yang sudah tertalu terkontaminasi bintang film porno. Lagu ini sederhana di departemen musik, namun keindahan alur lirik terukir sepanjang lagu yang bercerita tentang beratnya hidup [Been gone a long time I kinda lost my way, I can't find it] dan memberikan pencerahan di bagian reff [I reached for a shooting star, it burned a hole through my hand Made its way through my heart, had fun in the promised land]. Kalau boleh jujur, ini adalah salah satu masterpiece untuk penulisan lirik oleh Tom di album ini.

“Kaleidoscope” dimulai dengan barisan prosa dari Mark ala +44 yang sulit dimengerti maknanya, ia menempatkan banyak kiasan semacam [Stop blocking the driveway with your car Put the butterfly in the bell jar] yang tentu saja bermakna ganda, lalu Tom serta-merta meneriakan kegelisahan-nya secara membabi buta [It's the first time that I worried Of a bad dream, of a journey On the highway, through the valley It's a long road through the night It's a long road] "Kaleidoscope" ditulis mengenai proses pengerjaan album yang sangat lama dan perubahan yang mereka alami. Mark berusaha menulis lagu upbeat yang ceria untuk album ini dan menghubungkan dengan lirikal yang gelap, berkaitan dengan pengalaman berat yang terjadi sebelum reuni mereka. Lagu ini akan menempatkan kita pada situasi penuh tanda tanya dan ketakutan dalam kegelapan persimpangan jalan kehidupan, sepertinya itu yang diinginkan Mark dan Tom untuk kita rasakan.

Intro milik “This Is Home” yang dengan brutalnya menyatukan lick gitar standar milik Tom dengan sound string yang terdengar apik. Liriknya sendiri tidak buruk, bahkan sangat baik dan menunjukkan khas Blink-182, dengan Tom menyanyikan [We fuck and fight like vagabonds We dance like fucking animals].

Apa yang ada dipikiran Mark saat mengikuti saran Tom untuk tetap menggunakan ”MH 4.18.2011” sebagai judul lagu? Jujur saja, ini judul yang bagus dan unik dan dilihat, namun sukar diucapkan. Mengingat lagu ini berpotensi menjadi lagu terbaik di album Neighborhoods. "MH 4.18.2011" pada awalnya diberi judul "Hold On", namun Tom menganggap bahwa judul yang baru terdengar lebih keren, menyamakannya dengan virus. Lagu ini mengingatkan kita akan intensitas milik ”Here’s Your Letter” (Self-Titled) namun versi lebih baik, dengan lirik reff yang memberikan sisi apatis Mark akan kehidupan [Hold on, the worst is yet to come Save your money for hired guns Hold strong when everything you loved is gone] dan ditutup dengan quote jenaka cerdas yang menampar kita semua… [stop living in the shadow of a helicopter…]


“Love Is Dangerous!" akan membawa anda sebuah atmosfir kegelapan dunia gemerlap luar angkasa yang penuh kegamangan dansa romansa. Tom sekali lagi berperan dalam keluarnya sound-sound aneh yang mengiringi lagu ini. Namun, nilai plus lagu ini adalah verse yang dinyanyikan Tom dan Mark secara bersamaan dan tumpang tindih, mengingatkan kita akan kegelapan ”Violence” (Self-Titled) dalam versi lebih dewasa. Diawali lirik [I have had it with this damn double vision My hands swollen, I can't keep holding on My hearts sinking and stuck in deadly rhythm] dan bisa ditebak, lagu ini mengalun dipenuhi pecahan hati yang menghilang di black hole dan memaksa kita mengerti, betapa bahayanya perasaan bernama Cinta, seperti saat Tom berteriak [Love, love is so dangerous!] dan Mark bergumam [Life's cruel so we all pretend to find].

Tenggak LSD, karena itu cara satu-satunya mengerti dan memahami lagu berbau experimental Mark berjudul ”Fighting The Gravity” yang seperti berputar-putar dalam balutan hipnotis level tinggi yang sukar dijelaskan arah dan bentuknya. Meski lagunya masih bernyanyi mengenai kegalauan [something swimming in my blood, somethings rotting in my brain I'm smothered from the flood, I can't recognize your face, I need to leave so just drive,] yang jauh lebih mudah dicerna daripada musiknya. Bukan lagu yang jelek, namun jelas, tak akan bisa dinikmati dalam keadaan sadar. Benar kata Mark, this make no sense.

Lagu ringan menutup Neighborhoods, adalah ”Even If She Falls” yang mengingatkan kita akan era Take Off Your Pants and Jacket dimana Tom melakukan tembak langung dengan menyanyikan anthem baru bagi para pria-pria pecundang yang baru saja ditolak wanita yang dicintainya [When, the night will begin, The pain it won't end Even if she falls in loveBack, you wanna turn back Your heart will attack Even if she falls in love] dan ini mengakhiri penantian 8 tahun penuh darah dan peluh menunggu.

Neighborhoods memang diproyeksikan menjadi album tergelap, mengingat mereka mengalami begitu banyak hal, seperti perpecahan internal yang menyebabkan Tom tak saling bicara dengan Mark dan Travis bertahun-tahun (bahkan saling mengejek) lalu kecelakaan Travis yang berbuntut panjang, meninggalnya DJ AM, meninggalnya Jerry Finn, begitu banyak hal menyedihkan yang terjadi. Secara keseluruhan, Neighborhoods masih menggunakan resep yang mirip dengan Self Tittled yang menabrakan semua influence musik Tom, Mark dan Travis. Patut ditunggu, apakah rumus ini akan digunakan lagi untuk album-album Blink-182 selanjutnya?

Baca juga kaleidoskopnya selama tahun 2011 di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar